Skip to main content

Kebijakan Socrates Gnoti Seauton dan Maieutica Technic

Table of Content [ ]

Pojokbaca.org - Socrates adalah seorang filsuf Yunani Klasik yang mendobrak keterbelakangan corak berpikir bangsa Yunani yang cenderung bersikap nihilisme karena pengaruh filsafat sofistik yang dikembangkan oleh Pyhthagoras dan Gorgias, sehingga dunia pengetahuan di Yunani mulai mengalami kemunduran-kemunduran.

Kalau pada masa kemajuan Mesir Kuno dan Mesopotamia bangsa Yunani mengalami kemunduran dalam alam pikiran serta ilmu pengetahuan karena adanya mitologi-mitologi, maka pada zaman Socrates kemunduran terjadi karena sikap apatis dan zumud dikarenakan akibat adanya gerakan filsafat sofistik yang cenderung bersikap nihilisme yang merelativitaskan segala sesuatu.

Kira-kira selama dua ribu tahun, para filosof membangun fondasi falsafahnya sehingga mengguncang filsafat dunia barat, para filosof klasik muncul untuk membangkitkan kembali kepercayaan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan yang waktu itu mengalami pendangkalan dan melemahnya tanggungjawab manusia karena pengaruh negatif dari para filosof aliran sofisme.

Socrates hadir dengan memberikan semangat baru dalam pemikiran ilmu pengetahuan Yunani tentang arti pentingnya kehidupan filsafat yang mengedepankan kemampuan mengolah akal-pikiran dalam dunia ilmu pengetahuan, yang mana kehadiran socrates dengan semangat barunya itulah menjadi motivasi kehadiran filosof seperti Plato dan Aristoteles sehingga bangsa Yunani memasuki fase baru dalam filsafat yakni kemunculan filsafat Klasik.

Socrates adalah seorang yang menjadi batas pengantara atau masa perubahan antara para filsuf “pra Socrates” dan Filsuf Yunani selanjutnya (Muhammad Alfan:2013:17) yang lebih dikenal orang dengan periode Filsafat Klasik sebagai bentuk periode kebangkitan kedua bangsa Yunani dalam bidang ilmu pengetahuan yang dimotori oleh para filosuf-filosuf.

Apa itu Kebijakan Socrates ?

Filsuf Yunani yang hidup di tahun 469-399 saat sebelum Masehi. Gagasannya: Menghidupkan pada diri manusia rasa cinta akan kebenaran dan kebaikan (Philosophia) yang menolong manusia untuk berpikir dan hidup lempeng. Semboyannya: "Gnothi Seauthon" maknanya "Kenali Dirimu". Semboyan ini didokumentasikan oleh bangsa Yunani yang ditulis pada pintu gerbang masuk Kota Yunani. 

Dengan ketegasan keputusannya dia ikhlas diganjar hukuman oleh penguasa lewat pengadilan dengan cara minum racun. Tuntunan kalau seluruh kebenaran itu relatif sudah menggoyangkan teori-teori Sains yang sudah mapan, mengguncang kepercayaan agama.

Hal ini mengakibatkan kegugupan dan kerusuhan dalam kehidupan. Inilah penyebabnya Socrates harus bangun. Dia harus memberikan keyakinan orang Athena jika tidak seluruhnya kebenaran itu relatif; ada kebenaran yang umum yang bisa digenggam oleh seluruh orang.

Beberapa kebenaran memanglah relatif, akan tetapi tidak seluruhnya. Sayang, Socrates tidak meninggalkan tulisan. Tuntunannya kita dapatkan dari tulisan murid-muridnya, khususnya Plato.

Kehidupan Socrates (470-399 SM) ada di tengah-tengah kehancuran imperium Athena. Tahun akhir hidupnya sempat pernah menyaksikn kehancuran Athena oleh kehancuran orang-orang Oligarki dan beberapa orang Demokratis.

Di sekelilingnya sejumlah dasar lama hancur, kekuasaan jahat menukar keadilan dibarengi timbulnya penguasa-penguasa politik yang menjadi orang-orang tinggi hati dibanding dengan sebelumnya.

Pemuda-pemuda Athena pada periode ini dikepalai oleh Doktrin Relativisme dan Golongan Sofis, sedang Socrates ialah seorang pengikut kepribadian yang absolute dan mempercayai jika menegakkan kepribadian sebagai pekerjaan filosof, yang berdasar pada beberapa ide logis serta ketrampilan dalam pengetahuan.

Di antara tahun 421-416 SM ialah saat-saat buruknya jalinan di antara Athena dan Sparta. Masa ini menyaksikan kebangkitan Alciblades, salah seorang murid Socrates. Namun, dia juga sebagai salah satunya factor yang mengakibatkan keruntuhan Athena. Dia bertanggungjawab atas kekalahan Athena di Syracuse 413 SM.

Beberapa Negara kecil datang mencuri Athena. Revolusi ini mengidentifikasi mulai remuknya Athena. Delapan tahun setelah itu beberapa orang Sparta, di bawah instruksinya Lysander, merusak Athena dan pada tahun 404 SM perang Peloponesia usai, yang menghasilkan Athena tunduk di bawah Sparta. Di antara tahun 404-403 Partai Oligarki menguasai Athena. Tiga tiran berkuasa dengan tangan besi dan memakai sistem teror.

Tahun 403 SM demokrasi untuk terakhirnya coba dibuat, akan tetapi itu tidaklah pemerintahan yang bijaksana. Di bawah sponsor mereka di tahun 399 SM Socrates didakwa dengan 2 dakwaan yakni, Menghancurkan pemuda dan menampik Tuhan-tuhan Negara.

Namun, Kiekegaard, Bapak Eksisteanfisme Modern, yang kagum pada Socrates dan dia menjadikan filsafat Socrates sebagai model filsafatnya. Kiekegaard menulis dibarengi mengenai filsafat Socrates. Socrates sangat bermakna untuk Kiekegaard karena Socrates secara kontans melawan beberapa orang sofis pada jaman itu. Dia mengutamakan jika banyak filosof era ke Sembilan belas, terutamanya Hegel, pada intinya berpedoman pada paham yang serupa dengan orang sofis.

Untuk membuktikan dakwaan itu Socrates diadili oleh pengadilan Athena, pidato pembelaannya yang dicatat oleh Plato, dengan judul Apollogis terhitung salah satunya bahan penting untuk mengenal tuntunan Socrates.

Dalam pengadilan itu Socrates dipastikan bersalah dengan sebagian besar 60 suara, 250 menentang 220 (281 lawan 220 menurut Hasan, 1973: 74).  Dia dituntut hukuman mati. Bertens menerangkan tuntunan Socrates sebagaimana berikut ini.

Tuntunan itu diperuntukkan untuk melawan tuntunan relativisme sofis, Socrates mengawali filsafatnya dengan berangkat dari pengalaman setiap hari. Namun, ada ketidaksamaan yang sangat penting di antara orang Sofis dan Socrates. Socrates tidak menyetujui relatifisme golongan sofis.

Menurut pandangan Socrates ada kebenaran obyektif, yang tidak tergantung pada saya atau pada kita. Ini memang pusat persoalan yang ditemui oleh Socrates. Untuk menunjukkan terdapatnya kebenaran yang obyektif, Socrates memakai sistem tertentu.

Sistem itu memiliki sifat efektif dan digerakkan lewat perbincangan-perbincanga. Dia menganalisa pandangan-pandangan. Tiap orang memiliki opini mengetahui salah dan tidak salah, contohnya. Dia menanyakan ke negarawan, hakim, tukang, pedagang, dan lain-lain.

Menurut Xenophon, dia menanyakan mengenai salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut, dan sebagainya. Socrates selalu memandang jawaban pertama sebagai anggapan, dan dengan jawaban-jawaban selanjutnya dia menarik konsekuensi yang bisa diambil kesimpulan dari jawaban-jawaban itu.

Bila rupanya anggapan pertama tidak bisa dipertahankan, lantaran mendatangkan resiko yang tidak mungkin maka anggapan itu ditukar dengan anggapan lain, lalu anggapan ke-2 ini diselidiki dengan jawaban lainnya, demikianlah seterusnya. Umum terjadi perbincangan itu usai dengan aporia (ketidaktahuan). Namun, tidak jarang diskusi itu menghasilkan satu pengertian yang dirasa bermanfaat.

Sistem yang dipakai Socrates umumnya dikatakan dialegtika dari kata kerja yunani dialegsthai yang bermakna bercakap-cakap atau berkomunikasi. Sistem Socrates diberi nama dialegtika karena diskusi memiliki peran utama di dalamnya.

Aristoteles memberikan catatan berkenaan sistem Socrates ini. Ada dua penemuan, ucapnya, yang menyangkut Socrates, keduanya terkait dengan dasar pengetahuan. Yang pertama adalah dia mendapati induksi dan yang kedua dia mendapati pengertian.

Dalam asumsinya Aristoteles memakai istilah induksi ketika pertimbangan berangkat dari pengetahuan khusus, lalu menyimpulkan pengetahuan umum. Hal itu dilaksanakan oleh Socrates, Dia bertolak dari beberapa contoh kongkret, dan dari sana dia menyimpulkan pemahaman yang umum.

Contohnya Socrates ingin mengetahui apa itu yang dimaksud orang dengan arĂȘte (kelebihan). Nah, ada beberapa orang yang memiliki ketrampilan tertentu yang dipandang mereka masing-masing memiliki arĂȘte. Oleh karena itu Socrates menanyakan ke tukang besi, apa kelebihan bagi mereka; ke negarawan, filosof, pedagang , dan lain-lain.

Beberapa ciri kelebihan untuk mereka masing-masing pastilah berbeda, tapi ada beberapa ciri yang serupa: maknanya ada ciri-ciri kelebihan yang di setujui oleh masing-masing dari mereka. Socrates mengusahakan karakter umum kelebihan dengan menyebutkan ciri-ciri yang disepakati bersama-sama dan menyisihkan ciri-ciri khusus yang tidak disepakati bersama.

Itulah langkah membuat pengertian mengenai satu object. Dari upaya ini Socrates mendapati pengertian, penemuaannya yang ke-2 , kata Aristoteles. Sudah pasti penemuan ke-2 ini terkait kuat dengan penemuan pertama tadi lantaran pengertian ini didapat dengan jalan melangsungkan induksi itu.

Bagi kita, yang bisa membuat dan memakai pengertian, barang kali merasakan pengertian itu bukan suatu hal yang sangat penting, jadi bukan satu penemuan yang bernilai. Namun, untuk Socrates pada saat itu penemuan pengertian bukan hal yang kecil maknanya; penemuan berikut yang bakal dihantamkannya ke relatifisme golongan sofis.

Orang sofis berasumsi jika semua pengetahuan ialah relatif kebenarannya. Tidak ada pengetahuan yang memiliki sifat umum. Dengan pengertian itu Socrates bisa menunjukkan ke orang sofis jika pengetahuan yang umum ada, yakni pengertian itu.

Sehingga orang sofis tidak semuanya betul: yang betul adalah beberapa pengetahuan yang memiliki sifat umum dan beberapa memiliki sifat khusus; yang betul adalah yang khusus itulah pengetahuan yang kebenarannya relatif.

Misalkan: apa bangku itu? Kita check semua kalo bisa bangku yang ada di bumi ini. Kita mendapati bangku hakim, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya empat, berbahan jati; kita saksikan bangku malas, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya dua, dari besi anti karat; kita check bangku makan, ada tempat duduk dan sandaran, kakinya tiga, dari rotan: demikianlah selanjutnya.

Nah, kita saksikan pada tiap bangku itu selalu ada (1) tempat duduk dan (2) sandaran. Ke-2 ciri-ciri ini ada pada tiap bangku. Beberapa ciri lainnya tidak dipunyai oleh semua bangku tadi. Jadi seluruh orang akan setuju jika bangku ialah tempat duduk yang bersandaran. Lihatlah, seluruh orang akan setuju, berarti ini merupakan sebuah kebenaran obyektif umum, tidak subyektif relatif. Mengenai jumlah kaki, bahan, dan lain-lain adalah kebenaran yang relatif. Maka memanglah ada pengetahuan yang umum, itulah pengertian.

Bukti terdapatnya persetujuan umum itu, pemahaman umum itu, pengertian itu yakni jika kita pesan bangku pada tukang bangku. Kita cukup menjelaskan supaya tukang bangku membuat bangku buat kita, tak perlu menjelaskan "buat bangku yang ada tempat duduk dan sandarannya".

Kenapa tak perlu? Karena tukang bangku itu sudah mengetahuinya, lantaran sebuah kebenaran umum jika bangku pastilah ada tempat duduk dan sandarannya. Yang penting dicatat dalam pesan itu adalah ciri-iri lain yang bukan merupakan persetujuan umum. Mesti kita jelaskan supaya dibuatkan bangku kaki empat bahan kayu jati, dan karakter khusus lainnya sesuai dengan yang diinginkan. Ciri-ciri umum itu disebutkan ciri-ciri dasar dan semua ciri-ciri khusus itu disebut ciri-ciri aksidensi. 

Pengertian adalah penyebutan semua ciri-ciri dasar satu object dengan menyisihkan semua ciri-ciri aksidensinya. Dengan mengajukan pengertian itu Socrates sudah bisa "menghentikan" pergerakan dominansi relatifisme golongan sofis. Maka kita bukan hidup tanpa pegangan; kebenaran sains dan agama bisa digenggam bersama sebagiannya, diperselisihkan sebagiannya. Dan orang Athena mulai kembali menggenggam aturan sains dan akidah agama mereka.

Plato memperkukuh anggapan Socrates itu. Dia menjelaskan kebenaran umum itu benar ada. Dia bukan dicari dengan induksi sebagaimana pada Socrates, tetapi sudah ada "disitu" di alam gagasan. Tim Socrates semakin kuat.

Orang sofis kian kekurangan penganut, tuntunan jika kebenaran itu relatif makin ditinggal, makin tidak laris. Orang sofis kalap, lalu mendakwa Socrates menghancurkan psikis pemuda dan menampik Tuhan-tuhan. Socrates diadili oleh hakim Athena. Di situ dia melangsungkan pembelaan panjang lebar yang dicatat oleh muridnya, Plato, di bawah judul apologia (pembelaan).

Dalam pembelaan itu dia menerangkan tuntunan-tuntunannya, seakan-akan mengajarkan seluruh orang yang datang di pengadilan itu. Socrates dipastikan bersalah dengan perbandingan 280 (281) yang menuding Socrates dan 220 yang tidak menyanggahnya. Jadi kalah suara 60 (61), dia vonis hukuman mati. Andaikan Socrates memutuskan hukuman dibuang keluar kota, pasti hukuman tersebut bakal diterima oleh hakim itu.

Namun Socrates tidak mau untuk meninggalkan kota kelahirannya. Socrates menawarkan hukuman denda 30 mina (mata uang Athena saat itu). Opsi ini ditampik oleh beberapa hakim karena dipandang terlampau kecil, khususnya lantaran Socrates dalam pembelaannya dirasa sudah mengejek para hakim.

Umumnya hukuman mati dilaksanakan dalam batas waktu 12 jam dari saat ditetapkannya hukuman. Namun, pada waktu itu ada satu perahu monitor Athena yang sakral melakukan perjalanan tahunan ke kuil di pulau Delos, dan menurut hukum Athena, hukuman mati baru bisa dilakukan jika perahu itu telah kembali.

Oleh sebab itu, sebulan lamanya Socrates tinggal dalam penjara sekalian berbincang-bincang dengan beberapa teman dekatnya. Salah seorang antara mereka, yakni Kriton, menyarankan agar Socrates melarikan diri, tapi Socrates menampik. Dalam diskusi yang dengan judul Pharidon. Plato bercerita perbincangan Socrates dengan beberapa muridnya pada hari terakhir hidupnya dan dia menggambarkan juga bagaimana Socrates dalam satu senja.

Kebijakan Socrates (Gnoti Seauton)

Menurut Socrates, manusia dengan pemikiran atau pengetahuannya, seakan mengambil langkah maju dari usaha menguak misteri satu ke arah misteri lainnya yang semakin mekar dalam hidupnya. Manusia dengan pemikiran atau pengetahuannya, seakan bergerak dari 1 ketidakjelasan ke arah ketidakjelasan baru dalam kehidupannya.

Realita tersebut yang membuat ilmu dan pengetahuan semakin terus berkembang dalam aturan filosofi, supaya sanggup mengincar dan membunuh naga-naga ketidakjelasan dan kejahatan anyar (kejahatan professional) yang berkembang bersamaan dengan perubahan pemikiran, pengetahuan, dan keilmuan manusia.

Gnotie Seauton, dalam masalah ini, memperlihatkan sebuah kebutuhan kemanusiaan yang memiliki sifat esensial dalam soal mendalami dan melaksanakan pemikiran, sebagai salah satu ciri-ciri kehadiran yang unik manusia itu. Utamanya pada analisa diri dan pengetahuan diri untuk menggapai pengetahuan dan perilaku yang lebih bagus lagi.

Manusia lewat pengetahuannya itu, mendapatkan kekuatan, tanggung jawab, kesadaran hati, kematangan ,pertimbangan atau cendekiawan serta rasa optimis untuk membentuk dirinya sendiri sebagai makhluk bermoral yang semakin matang (dewasa), sadar diri, dan rendah hati.

Manusia, selain memerlukan kerendahan hati, juga  memerlukan kesabaran, dan ketegasan batin untuk menegur dan mendidik diri. Dia perlu keterdisiplinan, tanggung jawab, dan percaya diri di dalam memburu pengetahuan atau kearifan.

Filsafat, karenanya, ingin memperlihatkan manusia tidak cuma bertugas untuk mengisi "ingin tahunya dengan pemikiran dan ketrampilan-ketrampilan tehnologis (praktis operasional yang sempit atau terbatas)”.

Malah kebalikannya, filsafat ingin melebihinya dan menempatkan perjuangan manusia yang berpengetahuan itu di pergumulan dan pekerjaan memanusiakan manusia sebagai manusia yang bermoral dan berbudaya di dalam kesatuan keberadaannya.

Manusia, secara eksistensial "multidimensi", dan karena itu, peningkatan pemikiran dan pengetahuannya juga sebaiknya merupakan pekerjaan eksistensial yang utuh dalam keberbagaian dimensinya itu.

Kebijakan Socrates (Maieutica Technic)

Pendapat Socrates yang paling penting ialah kalau dalam diri tiap manusia terkubur jawaban berkenaan dengan bermacam masalah di dunia riil. Karenanya tiap orang sebenarnya dapat menjawab semua masalah yang ditemuinya.

Permasalahannya ialah pada orang-orang itu sendiri, umumnya mereka tidak mengetahui jika dalam dirinya sendiri terkubur jawaban untuk beberapa persoalan yang ditemuinya. Sebab itu menurut Socrates, memerlukan adanya orang lain yang turut menggerakkan untuk mengeluarkan beberapa ide atau jawaban yang terkubur.

Dengan kata lain butuh seperti bidan untuk menolong kelahiran si buah pikiran dari dalam hati manusia. Jadi pekerjaan Socrates setiap hari yakni jalan-jalan di tengah kota, berkeliling di beberapa pasar untuk bercakap dengan seluruh orang yang ditemui guna mencari jawaban yang terkubur berkenaan bermacam masalah.

Dengan sistem tanya jawab yang dikatakan sebagai sistem Socrates ini bakal muncul pemahaman yang disebut "maieutics" (menarik keluar sama dengan yang dikerjakan bidan).

Pemahaman tentang diri kita sendiri ini menurut Socrates penting bagi setiap manusia.Perihal ini merupakan kewajiban tiap orang untuk mengenali diri sendiri lebih dulu jika dia ingin memahami mengenai beberapa hal lain di luar dirinya sendiri. Dia memiliki semboyan "belajar yang sebenarnya pada manusia ialah belajar mengenai manusia".

Kesimpulan

Socrates merupakan sorang filsuf Yunani yang hidup di tahun 469-399 saat sebelum Masehi. Dia berpendapat jika menghidupkan pada diri manusia rasa cinta akan kebenaran dan kebaikan (Philosophia) yang menolong manusia untuk berpikir dan hidup lempeng.

Socrates mempunyai dua kebijakan, yakni Gnotie-Seauton atau kenali dirimu dan Maieutica-Technic atau seni kebidanan.

Gnotie-Seauton, dalam masalah ini, memperlihatkan sebuah kebutuhan kemanusiaan yang memiliki sifat esensial dalam soal mendalami dan melaksanakan pemikiran, yang disebut satu diantara ciri-ciri kehadiran yang unik manusia itu. Utamanya pada analisa diri dan pengetahuan diri untuk menggapai pengetahuan dan perilaku yang lebih bagus lagi.

Maieutica Technic, dalam pertimbangan Socrates yaitu kalau dalam diri tiap manusia terkubur jawaban berkenaan dengan bermacam masalah di dunia riil. Sebab itu tiap orang sebenarnya dapat menjawab semua masalah yang ditemuinya.

Permasalahannya ialah pada orang-orang itu sendiri, umumnya mereka tidak mengetahui jika dalam dirinya sendiri terkubur jawaban-jawaban untuk beberapa persoalan yang ditemuinya. Karenanya menurut Socrates, memerlukan orang lain yang turut menggerakkan untuk mengeluarkan beberapa ide atau jawaban yang terkubur. dengan kata lain perlu seperti "bidan" untuk menolong kelahiran si buah pikiran dari dalam hati manusia.

Referensi :

  • Adisusilo, Sutarjo. 2013. “Sejarah Pemikiran Barat Dari Yang Klasik Sampai Yang Modern”. (Jakarta:Rajawali Pers).
  • Salam, Burhanuddin. 2012. “Pengantar Filsafat”. (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2012).
  • Fahriansyah. "Antisofisme Socrates". Al ‘Ulum. Vol.61. No.3, Juli 2014, hlm 24.
Article Policy: Diperbolehkan mengambil sebagian artikel ini untuk tujuan pembelajaran dengan syarat menyertakan link sumber. Mohon koreksi jika ditemukan kesalahan dalam karya kami.
Tutup Komentar